Saturday, November 5, 2016

HADIS-HADIS BERKAITAN YASIN

MUQADDIMAH
Kebanyakan kaum muslimin membiasakan membaca surat Yasin, baik pada malam Jum’at, ketika mengawali atau menutup majlis ta’lim, ketika ada atau setelah kematian, kenduri aruah, kenduri kesyukuran dan pada acara-acara lain yang mereka anggap penting.  Sering kali surat Yasin dijadikan bacaan di berbagai pertemuan dan kesempatan, sehingga di buat buku kecil surah Yasin, Al-Qur’an itu hanyalah berisi surat Yasin saja. Dan kebanyakan orang membacanya memang karena tergiur oleh fadilat atau keutamaan surat Yasin dari hadits-hadits yang banyak mereka dengar, atau menurut keterangan dari guru mereka.

Al-Qur’an yang di wahyukan Allah adalah terdiri dari 30 juz. Semua surat dari Al-Fatihah sampai An-Nas, jelas memiliki keutamaan yang setiap umat Islam wajib mengamalkannya. Oleh karena itu sangat dianjurkan agar umat Islam senantiasa membaca Al-Qur’an. Dan kalau sanggup hendaknya menghatamkan Al-Qur’an setiap pekan sekali, atau sepuluh hari sekali, atau dua puluh hari sekali atau khatam setiap bulan sekali. (Hadist Riwayat Bukhari, Muslim dan lainnya).
Sebelum melanjutkan pembahasan, yang perlu dicamkan dan diingat dari tulisan ini, adalah dengan membahas masalah ini bukan berarti penulis melarang atau mengharamkan membaca surat Yasin.

Sebagaimana surat-surat Al-Qur’an yang lain, surat Yasin juga harus kita baca. Akan tetapi di sini penulis hanya ingin menjelaskan kesalahan mereka yang menyandarkan tentang fadhilah dan keutamaan surat Yasin kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Selain itu, untuk menegaskan bahwa tidak ada tauladan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca surat Yasin setiap malam Jum’at, setiap memulai atau menutup majlis ilmu, ketika dan setelah kematian dan lain-lain.
Mudah-mudahan keterangan berikut ini tidak membuat patah semangat, tetapi malah memotivasi untuk membaca dan menghafalkan seluruh isi Al-Qur’an serta mengamalkannya.

KELEMAHAN HADITS-HADITS TENTANG FADILAT SURAT YASIN

Kebanyakan umat Islam membaca surat Yasin karena -sebagaimana dikemukakan di atas- fadhilah dan ganjaran yang disediakan bagi orang yang membacanya. Tetapi, setelah penulis melakukan kajian dan penelitian tentang hadits-hadits yang menerangkan fadhilah surat Yasin, penulis dapati Semuanya Adalah Lemah.
Perlu ditegaskan di sini, jika telah tegak hujjah dan dalil maka kita tidak boleh berdusta atas nama Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebab ancamannya adalah Neraka. (Hadits Riwayat Bukhari, Muslim, Ahmad dan lainnya).

KELEMAHAN HADITS-HADITS TENTANG FADILAT SURAT YASIN

Kebanyakan umat Islam membaca surat Yasin karena -sebagaimana dikemukakan di atas- fadhilat dan ganjaran yang disediakan bagi orang yang membacanya. Tetapi, setelah penulis melakukan kajian dan penelitian tentang hadits-hadits yang menerangkan fadhilat surat Yasin, penulis dapati Semuanya Adalah Lemah.

Perlu ditegaskan di sini, jika telah tegak hujjah dan dalil maka kita tidak boleh berdusta atas nama Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebab ancamannya adalah Neraka. (Hadits Riwayat Bukhari, Muslim, Ahmad dan lainnya).

HADITS DHA’IF DAN MAUDHU’
Adapun hadits-hadits yang semuanya dha’if (lemah) dan atau maudhu’ (palsu) yang dijadikan dasar tentang fadhilah surat Yasin diantaranya adalah sebagai berikut :

Hadist 1
Artinya: “Siapa yang membaca surat Yasin dalam suatu malam, maka ketika ia bangun pagi hari diampuni dosanya dan siapa yang membaca surat Ad-Dukhan pada malam Jum’at maka ketika ia bangun pagi hari diampuni dosanya.” (Ibnul Jauzi, Al-Maudhu’at, 1/247).
Keterangan: Hadits ini Palsu.
Ibnul Jauzi mengatakan, hadits ini dari semua jalannya adalah batil, tidak ada asalnya. Imam Daruquthni berkata: Muhammad bin Zakaria yang ada dalam sanad hadits ini adalah tukang memalsukan hadits. (Periksa: Al-Maudhu’at, Ibnul Jauzi, I/246-247, Mizanul I’tidal III/549, Lisanul Mizan V/168, Al-Fawaidul Majmua’ah hal. 268 No. 944).

Hadits 2
Artinya: “Siapa yang membaca surat Yasin pada malam hari karena mencari keridhaan Allah, niscaya Allah mengampuni dosanya.”
Keterangan: Hadits ini Lemah.
Diriwayatkan oleh Thabrani dalam kitabnya Mu’jamul Ausath dan As-Shaghir dari Abu Hurairah, tetapi dalam sanadnya ada rawi Aghlab bin Tamim. Kata Imam Bukhari, ia munkarul hadits. Kata Ibnu Ma’in, ia tidak ada apa-apanya (tidak kuat). (Periksa: Mizanul I’tidal I:273-274 dan Lisanul Mizan I : 464-465).

Hadits 3
Artinya: “Siapa yang terus menerus membaca surat Yasin pada setiap malam, kemudian ia mati maka ia mati syahid.”
Keterangan: Hadits ini Palsu.
Hadits ini diriwayatkan oleh Thabrani dalam Mu’jam Shaghir dari Anas, tetapi dalam sanadnya ada Sa’id bin Musa Al-Azdy, ia seorang pendusta dan dituduh oleh Ibnu Hibban sering memalsukan hadits. (Periksa: Tuhfatudz Dzakirin, hal. 340, Mizanul I’tidal II : 159-160, Lisanul Mizan III : 44-45).

Hadits 4
Artinya: “Siapa yang membaca surat Yasin pada permulaan siang (pagi hari) maka akan diluluskan semua hajatnya.”
Keterangan: Hadits ini Lemah.
Ia diriwayatkan oleh Ad-Darimi dari jalur Al-Walid bin Syuja’. Atha’ bin Abi Rabah, pembawa hadits ini tidak pernah bertemu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebab ia lahir sekitar tahun 24H dan wafat tahun 114H.
(Periksa: Sunan Ad-Darimi 2:457, Misykatul Mashabih, takhrij No. 2177, Mizanul I’tidal III:70 dan Taqribut Tahdzib II:22).

Hadits 5
Artinya: “Siapa yang membaca surat Yasin satu kali, seolah-olah ia membaca Al-Qur’an dua kali.” (Hadits Riwayat Baihaqi dalam Syu’abul Iman).
Keterangan: Hadits ini Palsu.
(Lihat Dha’if Jamiush Shaghir, No. 5801 oleh Syaikh Al-Albani).

Hadits 6
Artinya: “Siapa yang membaca surat Yasin satu kali, seolah-olah ia membaca Al-Qur’an sepuluh kali.” (Hadits Riwayat Baihaqi dalam Syu’abul Iman).
Keterangan: Hadits ini Palsu.
(Lihat Dha’if Jami’ush Shagir, No. 5798 oleh Syaikh Al-Albani).

Hadits 7
Artinya: “Sesungguhnya tiap-tiap sesuatu mempunyai hati dan hati (inti) Al-Qur’an itu ialah surat Yasin. Siapa yang membacanya maka Allah akan memberikan pahala bagi bacaannya itu seperti pahala membaca Al-Qur’an sepuluh kali.”
Keterangan: Hadits ini Palsu.
Hadits ini diriwayatkan oleh At-Tirmidzi (No. 304 8) dan Ad-Darimi 2:456. Di dalamnya terdapat Muqatil bin Sulaiman. Ayah Ibnu Abi Hatim berkata: Aku mendapati hadits ini di awal kitab yang di susun oleh Muqatil bin Sulaiman. Dan ini adalah hadits batil, tidak ada asalnya. (Periksa: Silsilah Hadits Dha’if no. 169, hal. 202-203). Imam Waqi’ berkata: Ia adalah tukang dusta. Kata Imam Nasa’i: Muqatil bin Sulaiman sering dusta.
(Periksa: Mizanul I’tidal IV:173).

Hadits 8
Artinya: “Siapa yang membaca surat Yasin di pagi hari maka akan dimudahkan (untuknya) urusan hari itu sampai sore. Dan siapa yang membacanya di awal malam (sore hari) maka akan dimudahkan urusannya malam itu sampai pagi.”
Keterangan: Hadits ini Lemah.
Hadits ini diriwayatkan Ad-Darimi 2:457 dari jalur Amr bin Zararah. Dalam sanad hadits ini terdapat Syahr bin Hausyab. Kata Ibnu Hajar: Ia banyak memursalkan hadits dan banyak keliru. (Periksa: Taqrib I:355, Mizanul I’tidal II:283).

Hadits 9
Artinya: “Bacakanlah surat Yasin kepada orang yang akan mati di antara kamu.”
Keterangan: Hadits ini Lemah.
Diantara yang meriwayatkan hadits ini adalah Ibnu Abi Syaibah (4:74 cet. India), Abu Daud No. 3121. Hadits ini lemah karena Abu Utsman, di antara perawi hadits ini adalah seorang yang majhul (tidak diketahui), demikian pula dengan ayahnya. Hadits ini juga mudtharib (goncang sanadnya/tidak jelas).

Hadits 10
Artinya: “Tidak seorang pun akan mati, lalu dibacakan Yasin di sisinya (maksudnya sedang naza’) melainkan Allah akan memudahkan (kematian itu) atasnya.”
Keterangan: Hadits ini Palsu.
Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam kitab Akhbaru Ashbahan I :188. Dalam sanad hadits ini terdapat Marwan bin Salim Al Jazari. Imam Ahmad dan Nasa’i berkata, ia tidak bisa dipercaya. Imam Bukhari, Muslim dan Abu Hatim berkata, ia munkarul hadits. Kata Abu ‘Arubah Al Harrani, ia sering memalsukan hadits. (Periksa: Mizanul I’tidal IV : 90-91).

PENJELASAN
Abdullah bin Mubarak berkata: Aku berat sangka bahwa orang-orang zindiq (yang pura-pura Islam) itulah yang telah membuat riwayat-riwayat itu (hadits-hadits tentang fadhilah surat-surat tertentu). Dan Ibnu Qayyim Al-Jauziyah berkata: Semua hadits yang mengatakan, barangsiapa membaca surat ini akan diberikan ganjaran begini dan begitu SEMUA HADITS TENTANG ITU ADALAH PALSU. Sesungguhnya orang-orang yang memalsukan hadits-hadits itu telah mengakuinya sendiri. Mereka berkata, tujuan kami membuat hadits-hadits palsu adalah agar manusia sibuk dengan (membaca surat-surat tertentu dari Al-Qur’an) dan menjauhkan mereka dari isi Al-Qur’an yang lain, juga kitab-kitab selain Al-Qur’an. (Periksa: Al-Manarul Munffish Shahih Wadh-Dha’if, hal. 113-115).

KESIMPULAN
Dengan demikian jelaslah bahwa hadit-hadits tentang fadhilah dan keutamaan surat Yasin, semuanya LEMAH dan PALSU. Oleh karena itu, hadits-hadits tersebut tidak dapat dijadikan hujjah untuk menyatakan keutamaan surat ini dan surat-surat yang lain, dan tidak bisa pula untuk menetapkan ganjaran atau penghapusan dosa bagi mereka yang membaca surat ini. Memang ada hadits-hadits shahih tentang keutamaan surat Al-Qur’an selain surat Yasin, tetapi tidak menyebut soal pahala. Wallahu A’lam.
***
Penyusun: Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas
Dipublikasikan kembali oleh www.muslim.or.id dari blog Abu Aufa

Sumber:

https://muslim.or.id/270-derajat-hadits-fadhilah-surat-yasin.html

Saturday, March 12, 2016

Belajar Menerusi Buku/Kitab berguru dengan syaitan?

“ Sesiapa sahaja yang belajar menerusi buku / kitab bermakna dia belajar dan berguru dengan syaitan “. Ini di antara kata-kata yang sering kita dengar .
Marilah kita meneliti kata-kata ini dengan mengikuti perbahasan mengenainya sebagai mana berikut :

{ 1 } ~ AKAL VS KATA-KATA INI :
Kalaulah benar kata-kata “ Sesiapa sahaja yang belajar menerusi buku / kitab bermakna dia belajar dan berguru dengan syaitan “ , adakah ini bermakna : “ Setiap guru adalah ma’asum ( suci drp dosa-dosa ) laksana Para Malaikat a.s dan Para Anbiya’ a.s “ ??? .
Dan adakah kata-kata ini juga membawa makna : “ Sesiapa sahaja yang belajar secara berguru maka ilmunya dijamin betul dan tepat dengan kehendak Allah Ta’ala dan Rasul-Nya s.a.w ? “ .
Jawapan yang pasti ditemui oleh kita semua terhadap soalan-soalan itu ialah : SUDAH TENTU TIDAK !!! .

{ 2 } ~ DRP MANAKAH SUMBER KATA-KATA INI ? :
Yang pasti ianya bukanlah sabda Baginda Rasulullah s.a.w dan bukan juga berasal daripada Para Sahabat r.a .
Para Ulama’ rh yang muktabar ( yang boleh dijadikan panduan umat ) mempunyai berbagai pendapat mengenai daripada manakah datangnya kata-kata di atas dan mereka mencari-cari daripada manakah sumbernya kata-kata :

“ Sesiapa sahaja yang belajar menerusi buku / kitab bermakna dia belajar dan berguru dengan syaitan “
  • Kata-kata ini terdapat di dalam Kitab “ Haq at-Toriqoh “ dan “ Syarh Usul Tahqiq “ ~ Tetapi tidak dinyatakan pula daripada manakah asal-usulnya kata-kata itu .
  • Kata-kata itu juga tidak dimasukkan ke dalam kitab-kitab hadist yang terkenal seperti “ Sunan Sittah “ , “ Mausu’ah Atrofil Hadist “ , “ Al-Jamie’ al-Kabir Lis Suyuthi “ , “ Al-Mu’ujam al-Mufahras Li Alfazil Hadis an-Nabawi “ , “ Miftah Kunuz as-Sunnah “ dan selainnya .

* Asy-Syeikh Mahmud ‘Abdul Rauf al-Qasim menyatakan di dalam kitabnya “ Al-Kasyfu ‘An Haqiqah as-Sufiyyah Li Awwal Marrah Fit Tarikh “ menyatakan bahawa kata-kata itu dan yang seumpama dengannya adalah berasal daripada tokoh-tokoh Tasawwuf , di antaranya :
{ a } ~ Al-Imam as-Saiyid Ahmad ar-Rifai’e ( rh ) .
{ b } ~ Al-Imam Abu Yazid al-Bustomi ( rh ) .
{ c } ~ Hujjatul Islam al-Imam al-Ghazali ( rh ) .


{ 3 } ~ SIKAP KITA TERHADAP KATA-KATA INI :
Kata-kata manusia biasa ( selain Baginda Rasulullah s.a.w ) sudah tentulah boleh diterima dan boleh ditolak , dan inilah merupakan satu kata-kata hikmah yang pernah diucapkan oleh Al-Imam Malik rh , Imam Negeri Hijrah ( Al-Madinah al-Munawwarah ) satu ketika dahulu .

Diterima kata-kata itu apabila bersesuaian dan tepat dengan ajaran Al-Quranul Karim dan As-Sunnah as-Sahihah , dan ditolak sesuatu teori , kata-kata dan pendapat apabila bertentangan dengan kedua-dua sumber tertinggi perundangan dan ilmu umat Islam itu .

Begitu juga , sesuatu kata-kata dan pandangan itu sudah tentu boleh diterima apabila dihuraikan ( disyarahkan ) bersesuaian dengan kehendak syariat Islam itu sendiri , dan ia akan ditolak dan dilempar jauh-jauh apabila dihuraikan dengan cara yang bertentangan dengan kehendak agama Islam itu sendiri .

Demikianlah juga sikap kita terhadap kata-kata : “ Sesiapa sahaja yang belajar menerusi buku / kitab bermakna dia belajar dan berguru dengan syaitan ”.

Namun, Tidaklah kita menolak sesuatu kata-kata itu secara totok ataupun semberono apabila ia tidak bersumber daripada Baginda Rasulullah s.a.w , kerana masih banyak lagi kata-kata para cendekiawan yang kita terima kerana mengandungi hikmah dan ilmu pengetahuan .

Bilakah sesuatu ilmu itu perlu dituntut secara berguru ? :

1 – Bagi mereka yang berada di peringkat asas dan menengah . Dimulakan dengan mempelajari muqaddimah ( pendahuluan ) yang berkaitan dengan sesuatu ilmu yang bakal dipelajari . Di masa ini jugalah para pelajar dikenalkan dengan berbagai istilah agar mudah mereka mempelajari secara mendalam mengenai sesuatu ilmu itu apabila mereka belajar di peringkat tinggi.

2 – Bagi kanak-kanak ataupun orang-orang yang baru diperkenalkan sesuatu ilmu , sudah tentulah di saat ini mereka perlu kepada si guru ataupun pembimbing . Seperti belajar ABC dan belajar cara sembahyang .

Bilakah sesuatu ilmu itu boleh didapati tanpa perlu secara berguru ? :
1- Bagi mereka yang telah mempunyai asas-asas ilmu yang kukuh dan kuat .
2 – Bagi mereka yang berada di peringkat tinggi , mereka boleh membaca mana-mana buku pengajian yang telah pun mereka pelajari asas-asasnya sebelum ini dengan kemas-kukuh . Guru-guru ( tuan-tuan guru , para pensyarah ) hanyalah menjadi sumber rujukan apabila para pelajar peringkat ini mendapati beberapa masalah yang sukar difahami ataupun apabila mereka memerlukan huraian yang panjang lebar terhadap isi sesuatu buku .

Kebaikan Berguru Secara Langsung :
1 – Mudah dan cepat memahami sesuatu topik .
2 – Boleh dilakukan soal-jawab secara bertubi-tubi secara langsung tapa perlu menunggu lama .
3 – Si Guru yang mahir sudah tentu boleh memperbandingkan isi sesuatu kitab / buku yang di baca oleh muridnya dengan kitab-kitab lain yang masih belum dibaca oleh muridnya itu dan guru itu juga boleh menambah dengan beberapa dalil dan keterangan lagi sebagai penjelas dan pelengkap .
4 – Si Guru boleh membetulkan cara bacaan si murid sama ada yang berkaitan dengan Ilmu Tajwid ataupun Tatabahasa Bahasa Arab ( Nahu dan Sorof ) . Selain itu si guru juga boleh membetulkan beberapa fakta , baris-baris tulisan Arab dan sebagainya yang mungkin disebabkan kesilapan si penulis buku / kitab ataupun kesilapan mesin cetak .
5 – Hubungan di antara si guru dengan muridnya lebih rapat dengan cara ini .

Kebaikan Berguru Menerusi Bahan Bacaan ( Kitab / Buku / Majalah / Halaman Web Ilmiah ) :

1 – Sesuatu fakta yang dikemukakan di dalam bentuk tulisan lebih cermat dan teliti , kerana si penulis mempunyai masa yang agak panjang untuk menyatakan bahan rujukan bagi sesuatu artikel ilmiah . Walhal kalau belajar secara berguru , belum tentu lagi si guru itu ingat sesuatu fakta itu bersumber drp mana , di dalam buku apa , jilid keberapa , halaman keberapa dan terbitan mana ? .

2 – Adanya bahan bertulis , lebih meyakinkan lagi para pelajar berbanding dengan semata-mata kata-kata guru-gurunya ( kerana boleh jadi guru itu tersasul , terlupa , terkeliru dan seumpamanya ) .

3 – Bahan bertulis memberikan masa yang agak panjang kepada si pelajar sehinggakan boleh diulang-ulang semula pembacaan terhadap sesuatu topik yang dirasai agak sukar . Sedangkan kalau secara “ direct “ berguru , mungkin guru akan berasa tidak senang kerana asyik diajukan soalan yang sama .

4 – Bahan bertulis memberikan peluang menambah ilmu-pengetahuan kepada mereka yang tidak berpeluang berguru secara langsung . Contohnya : Mereka yang sibuk dengan tugas sehinggakan kadang-kadang tiada masa untuk belajar di masjid-masjid ataupun di surau-surau , masih boleh menampung sedikit kekurangan itu dengan selalu menjenguk web al-Ahkam.online dan mana-mana halaman web ilmiah .

Inilah secara ringkas kelebihan belajar sesuatu ilmu itu menerusi guru secara langsung ataupun menerusi sesuatu bahan bacaan secara langsung .
Setiap cara ini ada kebaikan dan ada kekurangan . Dan tentulah kekurangan yang ada pada kedua-dua cara dan sistem ini boleh dilenyapkan apabila kelebihan dan kebaikan kedua-dua cara dan sistem ini disatukan .
PENDEK KATA :

“ Belajar sesuatu ilmu secara berguru merupakan satu sistem yang paling ampuh dan kukuh , akan tetapi bukan semua ilmu itu hanya boleh didapati menerusi berguru semata-mata dan anggaplah bahan-bacaan itu sebagai sokongan dan tambahan bagi ilmu yang didapati secara berguru tadi “ .

Kami sangat-sangat mencadangkan kepada saudara-saudari yang dihormati sekalian agar sudi memanjangkan lagi pengetahuan mengenai topik ini dengan membaca sebuah buku yang amat baik mengenainya . 

Sekian . Semoga Ada Manfaatnya Bersama .
Wallahu A’alam Bis Sowab
Wahuwa Yahdi Ila Sabilir Rasyad .
****************************************

RUJUKAN & SARANAN PEMBACAAN


 BELAJAR MENERUSI BUKU , BERGURU DENGAN SYAITAN ? 
Oleh : Al-‘Allamah Ustaz Abdullah al-Qari al-Kenali AQHAS ( ha )
Terbitan : DINIE Publisher .
Harganya : RM 4.00 sahaja ( masa tahun 1994 dulu la nih ) 

boleh mendapati buku ini di Pustaka Jaafar Rawas , Kota Bharu 

Thursday, March 10, 2016

MENGIRIM PAHALA PADA MAYAT - TAHLILAN

MENGIRIM PAHALA BACAAN KEPADA MAYAT

BERTAHLIL merupakan satu perbuatan bacaan yang dilakukan untuk dikirimkan kepada seseorang yang meninggal dunia atau roh mayat. Ia merupakan satu tradisi tetap yang diamalkan di kalangan masyarakat melayu nusantara  sejak berzaman.
Lazimnya, bacaan yang diucapkan semasa bertahlil ialah sedikit daripada
ayat-ayat al-Qur'an yang tertentu, kalimah La Ilaha Illa Allah atau
Subhanaallah atau lain-lain dengan niat bacaan-bacaan tersebut dapat
dihadiahkan atau dikirimkan kepada orang yang meninggal dunia atau roh 
mayat di kalangan orang Islam.

Terdapat seperkara yang belum diketahui oleh banyak di kalangan orang Islam
sama ada yang benar-benar mengikut mazhab imam Syafie atau mereka yang hanya mengikut-ikut sahaja, adalah amalan bertahlil dan doa selamat yang kononnya dikirimkan untuk seseorang yang mati sebenarnya bertentangan dengan banyak pendapat di kalangan ulama-ulama yang bermazhab imam Syafie. 

Ini termasuklah imam Syafie sendiri yang tidak sependapat atau tidak setuju
dengan amalan bertahlil dan doa selamat. Terdapat juga ulama-ulama yang
berpendapat amalan tersebut boleh dilakukan, namun pandangan tersebut adalah sangat lemah dan amat bertentangan dengan ajaran al-Qur'an (pada surahan-Najm ayat 39 dan sunnah nabi serta para sahabatnya).
Di bawah ini dibawakan sebahagian daripada pendapat ulama Safieyah
berikutan masalah amalan tersebut. Pendapat-pendapat ini telah diambil dari
kitab-kitab tafsir, kitab-kitab feqah dan kitab-kitab syarah hadith.

1. Pendapat Imam Syafie rahimahullah.

Imam Nawawi menyebutkan di dalam kitabnya, Syarah Muslim iaitu,

"Adalah, bacaan al-Qur'an (yang pahalanya dikirimkan kepada mayat), maka
pendapat yang masyhur dalam mazhab Syafie ialah amalan tersebut tidak akan
sampai kepada mayat. Sebagai dalilnya, imam Syafie dan para pengikutnya
mengambil daripada firman Allah SWT (yang bermaksud), "Dan seseorang itu
tidak akan memperoleh melainkan pahala daripada daya usahanya sendiri."
Serta dalam sebuah sabda Nabi Sallallahu `alaihi wasallam yang bermaksud,
"Apabila manusia telah meninggal dunia, maka terputuslah segala amal
usahanya kecuali tiga daripada amalnya, sedekah jariah, ilmu yang
dimanfaatkan dan anak (lelaki atau perempuan) soleh yang berdoa untuk
simati" (an-Nawawi, Syarah Muslim : juz 1 hal; 9)


Lagi daripada imam Nawawi di dalam kitab Taklimatul Majmu', Syarah Muhazzab ada mengatakan,

"Adalah, membaca al-Qur'an dan mengirimkannya sebagai pahala untuk
seseorang yang mati dan menggantikan sembahyang untuk seseorang yang mati
atau sebagainya adalah tidak sampai kepada mayat yang dikirimkan menurut
Jumhurul Ulama dan imam Syafie. Keterangan ini telah diulang beberapa kali
oleh imam Nawawi di dalam kitabnya, Syarah Muslim"
(as-Subuki, Taklimatul Majmu', Syarah Muhazzab: juz 10, hal; 426)

Menggantikan sembahyang untuk si mati bermaksud menggantikan sembahyang yang telah ditinggalkan oleh si mati semasa hidupnya.

2. Al-Haitami di dalam kitabnya, al-Fatawa al-Kubra al-Fiqhiyyah, 
berkata sebagai,

"Bagi seseorang mayat, tidak boleh dibacakan kepadanya apa-apa pun
berdasarkan keterangan yang mutlak dari ulama Mutaqaddimin (terdahulu) iaitu
baca-bacaan yang disedekahkan kepada si mati adalah tidak akan sampai
kepadanya kerana pahala bacaan tersebut pembaca sahaja yang menerimanya.
Pahala yang diperolehi hasil daripada sesuatu amalan yang telah dibuat oleh
amil (orang yang beramal) tidak boleh dipindahkan kepada orang lain
berdasarkan sebuah firman Allah: 
"Dan manusia tidak memperolehi kecuali pahala dari hasil usahanya sendiri." (Al-Haitami,
al-Fatawa al-Kubra al-Fiqhiyah : juz 2, hal; 9)

3. Imam Muzani, di dalam Hamisy al-Umm, juga berkata,

"Rasulullah Sallallahu `alaihi wasallam telah memberitahu sebagaimana yang
telah pun diberitakan dari Allah bahawa dosa seseorang akan menimpa dirinya
sendiri seperti halnya sesuatu amal yang telah dikerjakan adalah hanya untuk
dirinya sendiri bukan untuk orang lain dan ia tidak dapat dikirimkan kepada
orang lain."
(al-Umm as-Syafie : juz 7, hal ; 269)

4. Imam al-Khazin di dalam tafsirnya mengatakan,

"Dan yang masyhur di dalam mazhab Syafie adalah, bahawa bacaan al-Qur'an
(yang pahalanya dikirimkan kepada mayat) adalah tidak dapat sampai kepada
mayat yang dikirimkan" (Al-Khazin, al-Jamal : Juz 4, hal ; 236)
5. Di dalam tafsir Jalalain telah disebutkan seperti berikut,

"Maka seseorang tidak akan memperolehi pahala sedikit pun dari hasil usaha
orang lain." (Tafsir Jalalain : juz 2, hal ; 197)
6. Ibnu Katsir di dalam tafsirnya, Tafsirul Qur'anil Azim telah menafsirkan surah an-Najm ayat 39 sebagai,

"Iaitu, sebagaimana dosa seseorang tidak boleh menimpa ke atas orang lain,
begitu juga halnya seseorang manusia juga tidak boleh memperolehi sebarang
pahala melainkan dari hasil usaha amalannya sendiri. Dan daripada surah an-najm ayat 39 ini, Imam Syafie r.a dan para ulama yang mengikutnya telah
mengambil kesimpulan bahawa, sebarang pahala bacaan yang dikirimkan kepada mayat adalah tidak akan sampai kepadanya kerana amalan tersebut bukan
daripada hasil usahanya sendiri. Oleh sebab itu, Rasulullah Sallallahu
`alaihi wasallam tidak pernah menganjurkan umatnya agar mengamalkan
(pengiriman tahlil atau doa selamat). Baginda juga tidak pernah memberikan
bimbingan sama ada dengan nas atau berupa isyarat di dalam hal tersebut.
Terdapat juga di kalangan para sahabat ada yang melakukan amalan tersebut
tetapi sekiranya amalan tersebut memang satu amalan yang digalakkan,
tentunya mereka telah mengamalkannya lebih dari dulu lagi sedangkan amalan
korban (mendekatkan diri kepada Allah) juga
terdapat batasan-batasan nas yang terdapat di dalam di dalam al-Qur'an dan
sunnah Rasul Sallallahu `alaihi wasallam dan tidak boleh dipalingkan dengan
qias-qias atau pendapat-pendapat ulama."

Demikianlah beberapa pendapat ulama Safiyah yang menyentuh tentang amalan
bertahlil dan pengiriman pahala bacaan kepada si mati. Namun begitu,
ternyata pendapat-pendapat tersebut telah bersepakat dan mempunyai satu
pandangan yang teguh iaitu mengirimkan pahala bacaan al-Qur'an kepada si
mati adalah tidak akan sampai kepada si mati atau roh yang dikirimkan.
Kini, jelaslah bahawa pengiriman pahala melalui amalan tersebut tidak akan
sampai kepada si mati. Jadi, segala amalan yang dilakukan seperti itu
merupakan satu amalan yang sia-sia atau membazir sedangkan Islam amat
melarang umatnya supaya tidak membazir.

Dasar hukum yang telah para ulama tersebut ambil adalah dari firman Allah
SWT di dalam surah an-Najm ayat 39 dan melalui hadith nabi Sallallahu
`alaihi wasallam yang menerangkan bahawa apabila seseorang manusia itu mati,
segala amalannya di dunia telah terputus kecuali tiga keadaan iaitu, sedekah
jariah, ilmu yang dimanfaatkan dan doa anak-anak yang soleh untuk kedua ibu
bapanya.
Apabila sudah jelas tentang hukum mengamalkan tahlil dan doa selamat, kini
timbul pula masalah lain iaitu di dalam bacaan tahlil sendiri ada menyebut,

"Allahumma ausil tsawmaba ma wara'nahu ila ruhi fulan."

Maksudnya, "Ya Allah, sampaikanlah pahala bacaan tahlil kami tadi kepada
roh si Fulan."

Persoalan tersebut bolehlah dijawab, bahawa para ulama telah bersepakat,
pengiriman pahala melalui bacaan tidak akan sampai kepada roh yang
dikirimkan kerana ianya bertentangan dengan firman Allah di dalam surah
an-Najm ayat 39.

Jika difikirkan secara dalam, amalan bertahlil ini amat canggung di sisi
Islam. Mana tidaknya, bertahlil atau mengirimkan pahala melalui bacaan
kepada seseorang mayat merupakan satu perbuatan yang melanggar syariat
Allah, tetapi kemudian dimohon pula agar tahlil tersebut diberikan pahala
dan pahalanya pula dimohon agar disampaikan kepada si mati atau roh si
Fulan. Tidakkah ianya satu perbuatan yang janggal?

Ayat -ayat Quraan berkaitan :
Allah berfirman:
“Itulah umat yang telah lalu. Baginya apa yang telah mereka usahakan dan bagimu apa yang telah kamu usahakan.” (Al-Baqarah, 134 & 141)

“Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.” (An-Najm, 40)

Tahlilan Dan Kenduri Arwah Mengikut Mazhab Syafie

BAB KEDUA
DOA SELAMAT UNTUK KEMATIAN

DOA selamat boleh digambarkan dengan berkumpul bersama-sama (keluarga dan masyarakat sekampung atau lain-lain) dengan dihidangkan makanan oleh
keluarga yang mengalami kematian. Ianya dilakukan di rumah keluarga yang
mengalami kematian pada hari kematian atau hari kedua, ketiga, ketujuh,
keempat puluh, keseratus atau sebagainya.

Sebenarnya, apabila diperiksa, dirungkai dan diperhatikan satu persatu di
dalam kitab-kitab Syafi'yah sama ada pada kitab Fiqh, tafsir mahu pun
syarah-syarah hadith, amalan doa selamat telah ditemui di situ bahawa ianya
adalah amalan yang dilarang atau dengan kata lain ialah haram.

Hal ini sebenarnya belum diketahui oleh ramai pengikut mazhab Syafie di
kalangan kita sendiri. Jika ada yang tahu, tentu jumlahnya hanya segelintir
sahaja. Oleh itu, mari kita ikuti bersama bagaimana pandangan ulama-ulama
mazhab Syafie di dalam hal ini.

1. Di dalam kitab Feqh I'anatut Talibin telah menyatakan,
"Ya, apa-apa yang dilakukan oleh orang iaitu berkumpul di rumah keluarga
mayat dan dihidangkan makanan untuk perkumpulan itu, ia adalah termasuk
bid'ah mungkarat (bid'ah yang diengkari agama). Bagi orang yang
membanterasnya akan diberi pahala." (I'anatut Talibin, syarah Fathul Mu'in :
juz 2, hal 145)

2. Imam Syafie sendiri tidak menyukai amalan berkumpul di rumah kematian sepertimana yang telah dikemukakan di dalam kitab al-Umm,
"Aku tidak sukakan mat'am iaitu berkumpul (di rumah keluarga mayat)
meskipun di situ tiada tangisan kerana hal tersebut malah akan menimbulkan
kesedihan.” (As-Syafie al-Umm : juz 1; hal 248)

3. Selanjutnya di dalam kitab I'anatut Talibin juga ada menyebut lagi,
"Dan perkara yang sudah menjadi kebiasaan iaitu keluarga mayat
menghidangkan makanan untuk para jemputan yang berkumpul, adalah satu
perkara bid'ah yang tidak disukai agama (Islam). Hal ini samalah seperti
berkumpul di rumah keluarga kematian itu sendiri kerana terdapat hadith
sahih yang telah diriwayatkan oleh Jarir r.a yang berkata, "Kami menganggap
bahawa berkumpul di rumah keluarga kematian yang menghidangkan makanan untuk jamuan para jemputan adalah sama dengan hukum niyahah (meratapi mayat) iaitu haram."
(I'anatut Talibin, juz 2, hal 146)

4. Pengarang kitab I'anatut Talibin juga ada mengambil keterangan sahih di dalam kitab Bazzaziyah iaitu,
"Dan ianya dibenci, menyelenggarakan makanan pada hari pertama
(kematian), hari ketiga, sesudah seminggu dan juga memindahkan makanan ke
tanah kubur secara bermusim-musim." (I'anatut Talibin, juz 2, hal 146)

5. Di dalam kitab Fiqh Mughnil Muhtaj ada menyebutkan,
"Adalah, keluarga kematian yang menyediakan makanan dan orang ramai
berkumpul di rumahnya untuk menjamu, merupakan bid'ah yang tidak
disunatkan, dan di dalam hal ini Imam Ahmad telah meriwayatkan hadith yang
sahih daripada Jarir bin Abdullah, berkata, "Kami menganggap bahawa
berkumpul di rumah keluarga kematian dan keluarga tersebut menghidangkan
makanan untuk menjamu para hadirin, adalah sama hukumnya seperti niyahah
(meratapi mayat) iaitu haram."
(Mughnil Muhtaj, juz1, hal 268)

6. Di dalam kitab Fiqh Hasyiyatul Qalyubi ada menyatakan,
"Syeikh ar-Ramli ada berkata, "Di antara bid'ah yang mungkarat (yang
tidak dibenarkan agama), yang dibenci apabila diamalkan sebagaimana yang
telah diterangkan di dalam kitab ar-Raudhah, iaitu apa-apa yang
telah dilakukan oleh orang yang dinamakan "kifarah" dan hidangan makanan
yang disediakan oleh tuan rumah kematian untuk jamuan orang yang berkumpul di rumahnya sama ada sebelum atau sesudah kematian, serta penyembelihan di tanah kubur."
(Hasyiyatul Qalyubi, juz 1, hal 353)

7. Di dalam kitab Fiqh karangan imam Nawawi iaitu kitab al-Majmu' syarah Muhazab, ada menyebutkan,
"Penyedian makanan yang dilakukan oleh keluarga kematian dan
berkumpulnya orang yang ramai di rumahnya, adalah tidak ada nasnya sama
sekali, yang jelasnya semua itu adalah bid'ah yang tidak disunatkan."
(an-Nawawi, al-Majmu' syarah Muhazab, juz 5, hal 286)

8. Pengarang kitab I'anatut Talibin juga turut mengambil keterangan di
dalam kitab al-Jamal syarah al-Minhaj yang berbunyi seperti berikut,
"Dan di antara bid'ah mungkarat yang tidak disukai ialah sesuatu perkara
yang sangat biasa diamalkan oleh individu iaitu majlis menyampaikan rasa
duka cita (kenduri arwah), berkumpul dan membuat jamuan majlis untuk
kematian pada hari keempat puluh, bahkan semua itu adalah haram."
(I'anatut Talibin, juz 2, hal 145-146)

9. Selanjutnya, pengarang kitab tersebut juga ada mengambil lagi
keterangan daripada kitab Tuhfatul Muhtaj syarah al-Minhaj yang berbunyi,
"Sesuatu yang sangat dibiasakan oleh seseorang dengan menghidangkan
makanan untuk mengundang orang ramai ke rumah keluarga kematian merupakan bid'ah yang dibenci sebab ada hadith yang telah diriwayatkan oleh Jarir
yang berkata, "Kami (para sahabat nabi Sallallahu `alaihi wasallam)
menganggap bahawa berkumpul di rumah keluarga kematian dan keluarga
tersebut menghidangkan makanan untuk majlis itu adalah sama dengan hukum
niyahah iaitu haram."
(I'anatut Talibin, juz 2, hal 145-146)

10. Pengarang kitab tersebut mengambil lagi fatwa dari mufti mazhab
Syafie, Ahmad Zaini bin Dahlan,

"Dan tidak ada keraguan sedikit pun bahawa mencegah umat daripada perkara
bid'ah mungkarat ini sama seperti halnya menghidupkan sunnah nabi
Sallallahu `alaihi wasallam. Mematikan bid'ah seolah-olah membuka pintu
kebaikan seluas-luasnya dan menutup pintu keburukan serapat-rapatnya kerana
orang lebih suka memaksa-maksa diri mereka
berbuat hal-hal yang akan membawa kepada sesuatu yang haram."
(I'anatut Talibin, juz 2, hal 145-146)

11. Dan di dalam kitab Fiqh Ala Mazahibil Arba'ah menyatakan,
"Dan di antara bid'ah yang dibenci agama ialah sesuatu yang dibuat oleh
individu iaitu menyembelih haiwan-haiwan di tanah kubur tempat mayat di
tanam dan menyediakan hidangan makanan yang diperuntukkan bagi mereka yang datang bertakziah."
(Abdurrahman al-Jaza'iri, al-Fiqhu Ala Mazahibil Arba'ah, juz 1, hal 539)

Demikianlah di antara pendapat-pendapat para ulama Syafi'iyah berkenaan
doa selamat atau kenduri arwah. Mereka telah bersepakatbahawa amalan
tersebut adalah bid'ah mungkarat atau bid'ah yang dibenci.
Dasar hukum yang mereka ambil (mengikut kata sepakat atau ijma' para
sahabat nabi Sallallahu `alaihi wasallam) ialah haram hukumnya mengamalkan
amalan tersebut.

Bukankah lebih baik jika tuan rumah kematian menggantikan kenduri doa
selamat untuk kematian atau lebih mudah disebut sebagai kenduri arwah kepada
satu amalan bersedekah kepada ahli faqir dan miskin. Sebabnya ialah, jika
kenduri tersebut diniatkan untuk bersedekah makanan kepada orang yang
menjamu hidangannya, kebanyakan orang yang hadir di dalam jamuan tersebut
tentunya di kalangan orang yang berkemampuan dan sudah tentu sedekah
tersebut kurang bererti bagi mereka atau tidak bererti sama sekali.
Tambahan pula, jika amalan tersebut diniatkan sebagai amalan bersedekah,
maka akan terjadilah satu amalan yang mencampuradukkan antara yang hak dan yang batil kerana amalan tersebut melibatkan dalam dua hal iaitu, ia
diniatkan sebagai bersedekah iaitu amalan yang disukai agama dan dalam masa
yang sama, berkumpul di dalam satu majlis jamuan yang telah diadakan di rumah kematian pula adalah satu perkara yang amat dilarang oleh agama atau disebut haram.

Mengirimkan pahala bacaan tahlil itu juga merupakan satu amalan yang
sia-sia. Oleh itu, kedua-duanya sama sekali tidak boleh dilakukan kerana
telah mencampuradukkan yang hak dan yang batil.

HUJAH DARI KITAB-KITAB JAWI -Nusantara (Kitab Kuning)

Selepas pembentangan pendapat-pendapat ulamak dari 4 mazhab , penyusun bentangkan pula pendapat ulamak kita dalam mazhab syafie yang ditulis dalam bhasa melayu lama tulisan jawi. Ulamak besar yang berkemampuan tinggi didalam agama dan bahasa arab ini banyak mengarang kitab-kitab agama dalam bahasa melayu tulisan jawi. 

Kebanyakan kitab-kitahb karangan mereka menjadi rujukan utama kepada penuntut-penuntut di madrasah-madrasah pondok pada zaman dahulu dan malah sehingga sekarang.

Kitab Furuk al-Masail

Antara lain yang dijelaskan di dalam kitab ini ialah:
“Hukumnya makruh, di cela oleh syara’, amalan yang dibuat oleh orang ramai apa yang dinamakan kifarat dan wahsyah (maksudnya apabila keluarga si mati terputus dengan orang yang dikasihinya, mereka merasai dukacita, kesunyian, kesepian dan sebagainya. Lalu mereka berhimpun dan memberi makan kepada orang ramai seperti yang tersebut itu.) iaitu berkumpul dan berhimpun serta memberi makan kepada orang ramai pada malam pertama selepas dikebumikan mayat, berhimpun dan memberi makan pada 7 hari, 20 hari, 40 hari dan seumpamanya.

Teks atau nas asalnya berbunyi:

:”Dan demikian lagi yang dikerjakan manusian dengan barang yang dinamakan dia dengan kafarat dan dairpada dikerjakan wahsyah yakni berhimpun memberi makan awal malam kemudian daripada ditanam mayat dan 7 harinya dan 20 dan 40 dan umapamanya, yang demikian itu haramkah atau makruh atau harus? (maka dijawabnya)

Maka adalah segala yang tersebut makruh yang dicela pada syara’ kerana tegah pada syarak kata syeikh Ibnu Hajar tiada sah wasiatnya”
(Syeikh Daud bin Abdullah al-Fatani, Furu’ al-Masail Juzuk 1 halaman 183)



Dari kitab Sabil al-Muhtadin:

Ringkasan dari kitab ini ialah:
a) Hukumnya bid’ah dan makruh jika dibuat kenduri makan selepas kematian dan dijemput orang ramai supaya memakan makanan itu, sama ada jamuan itu diberi sebelum mayat dikebumikan atau selepas dikebumikan.
b) Juga hukumnya makruh dan bid’ah kepada sesiapa yang menerima jemputan itu dan menghadirinya.

Nas asalnya berbunyi:
“Dan makruh lagi bid’ah bagi yang kematian memperbuat makan yang diserukannya manusia atas memakan dahulu daripada menanam dia dan kemudian daripadanya seperti yang telah teradat dan demikian olagi makruh lagi bid’ah bagi segala mereka yang diserunya perkenankan seruan.”
(Syeikh Muhammad bin Abdullah al-Banjari, Sabil al-Muhtadin, juzuk 2 halaman 83)

Dari Kitab Kasyfu al-Latsam:
Ringkasan dari kitab ini ialah:

a) Hukumnya makruh, dicela oleh syarak bila ahli si mati memberi makan kepada orang ramai sebelum atau selepas pengkebumiannya mayat.

b) Hukumnya makruh, dicela oleh syarak, membuat penyembelihan di kubur.

c) Hukumnya makruh, dicela oleh syara’, apa yang dinamakan kaffarat dan wahsyah iaitu berhimpun dengan memberi makan kepada orang ramai pada malam pertama selepas pengkebumian mayat, 7 hari, 20 hari, 40 hari dan seumpamanya seperti yang tersebut.
Nas atau teks asalnya berbunyi:

“Barang dikerjakan oleh ahli mayat daripada mempersembahkan makanan dan perhimpunan manusia atas dahulu daripada tanam mayat dan kemudian lagi dikerjakan oleh manusia dengan barang yang dinamakan dengan kafarat dan daripada dikerjakan wahsyah yakni berhimpun memberi makan awal malam kemudian daripada ditanam mayat dan 7 hari dan 20 hari dan 40 hari dan umpamanya yang demikian itu yang diperbuat oleh kebanyakan orang itu maka adalah segala yang tersebut i tu makruh yang dicela oleh syara’ kerana tegah pada syara.” (Kitab Kasyf al-Latsam, juzuk 1 halaman 85)


Dari Kitab Bughyatu al-Tulab: (Sheikh Daud Fatani)
Ringkasan dari kitab ini antara lain ialah:
a) Sunat kepada jiran ahli si mati, kepada kawan kenalan keluarga si mati dan kepada kaum kerabat yang jauh, membuat dan membawa makanan kepada ahli si mati yang boleh mengenyangkan mereka pada hari dan malamnya.

b) Hukumnya makruh dan bid’ah jika ahli si mati membuat makanan dan menjemput orang ramai supaya memakannya, sama ada sebelum atau selepas pengkebumian mayat.

c) Hukumnya bid’ah yang buruk lagi makruh jika diamalkan oleh orang ramai apa yang dinamakan kaffarat dan wahsyah iaitu perhimpunan dengan memberi makan kepada orang ramai selepas pengkebumian mayat, 7 hari, 40 hari dan seumpamanya seperti yang tersebut.

d) Asal sunat memberi makan ialah memberi makan kepada ahli si mati bukan keluarga si mati menjamu makan kepada orang lain, kerana sabda Nabi sallallahu alaihi wasallam :
“Buatlah kamu makan kepada ahli Ja’far, sesungguhnya telah datang kepada mereka perkara yang engharukan mereka.”

Teks asal kitab berbunyi:
“Dan sunat bagi jiran keluarga mayat dan orang yang berkenalan dengan keluarganya, jikalau bukan jirannya sekali pun, dan segala kerabatnya yang jauh, membawa makan makanan akan orang yang kematian yang mengenyangkan mereka itu pada hari dan malamnya (serta) menyungguh2 akan mereka itu suruh memakan kerana mereka itu terkadang meninggal akan memakan sebab sangat terkejut hati mereka itu….dan makruh lagi bid’ah bagi orang kematian memperbuat makanan menserukan (menyerukan) segala manusia atas memakan dia, sama ada dahulu daripada menanam dia dan kemudian daripadanya seperti yang telah diadatkan kebiasaan manusia. Demikian lagi makruh lagi bid’ah bagi segala orang yang diserukan dia memperkenakan seruannya. dan setengah daripada qabihat lagi makruh mengerjakan dia barang yang dikerjakan kebiasaan manusia barang dimakan dengan kafarat dan wahsyah dan 7 hari dan 40 hari dan umpamanya yang demikian itu….
Ada pun asal sunat mensediakan makanan itu pada barang yang dahlunya sabda Nabi sallallahu alaihi wasallam, tatkala datang khabar kematian saidina Ja’afar bin Abu Talib pada perang mu’tah, perbuat oleh mu bagi keluarga Ja’afar makanan maka sesungguhnya telah datang akan mereka itu barang yang membimbangkan mereka itu. “
( Syeikh Daud bin Abdullah alFatani Bughyatu al-Tulab, Juzuk 3 Halaman 33-34)





Dari Kitab Bahru al-Mazi
Ringkasan yang diambil dari kitab ini mengenai tajuk berkenan antara lain
seperti berikut:

a) Ahli si mati (isteri/suami, anak-anaknya) memasak makanan dan menghimpun orang ramai dan menjamu makanan kepada mereka, maka amalan itu tidak ada sedikit pun sandaran riwayat yang boleh dipegang dan di ikuti dari Nabi (sallallahu alaihi wasallam) dan dari sahabatnya.

b) Hukumnya bid’ah dan makruh jika ahli si mati memasak dan mengumpulkan orang ramai dan menjamu makanan itu kepada mereka kerana berpandu kepada hadis Jarir bin Abdullah katanya:
“Kami mengira perhimpunan orang ramai kepada ahli si mati dan membuat makanan selepas pengkebumian mayat adalah daripada perbuatan ratapan kematian.”

c) sunat kepada kaum kerabat si mati dan jiran tetangganya memasak atau membuat makanan dan diberi makan kepada ahli si mati yang boleh mengenyangkan mereka pada hari dan malamnya. Dan berkata Imam Syafie rahimahullah:
“Aku suka kepada kerabat si mati dan jiran tetangganya memasak makan kepada ahli si mati yang mencukupi sehari semalam kerana ianya sunat dan perbuatan golongan yang baik-baik.
(Bahru al-Mazi, juzuk 7 halaman 129-130)

Kesimpulan
Jika benar Tahlilan dan kenduri aruah itu ada ....Semasa Rasulullah Wafat siapakah yang memimpin Tahlillan untuk Rasulullah s.a.w dan adakah sahabat yang sangat mencintai dan menyayangi Rasulullah buat tahlilan untuk Nabi s.a.w?

Kemudian sahabat2 saperti Abu Bakar r.a. , Umar r.a,  Ali  r.a  dll pernahkah melakukan tahlil...dan selepas itu tabie...dan tabie-tabie adakah mereka melakukan Tahlilan...?

__________________________________